Keangkuhan Pangkal Perpecahan

Illustrasi

PERSEKUTUAN PENDALAMAN ALKITAB

Jemaat GMIT Tamariska Maulafa

Kamis, 22 Oktober 2026

 

Bacaan 1 : 1 Raja-Raja 12:1-24

Tema : Keangkuhan Pangkal Perpecahan

 

Pendahuluan

Dalam kehidupan bersama, baik di dalam keluarga, gereja, maupun Masyarakat, perpecahan sering kali berawal dari sikap yang dianggap sederhana, seperti merasa diri paling benar, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, dan memaksakan kehendak sendiri. Ketika seseorang memiliki kedudukan atau kekuasaan, ia terkadang merasa bahwa dirinya lebih tahu dan lebih berhak menentukan segala sesuatu. Akibatnya, nasihat orang lain diabaikan, keluhan tidak didengarkan, dan hubungan yang sebelumnya baik mulai mengalami keretakan. Keangkuhan membuat seseorang lebih mementingkan kehendak pribadi daripada kepentingan bersama. Padahal, kehidupan yang harmonis hanya dapat dibangun ketika setiap orang bersedia merendahkan hati, mendengarkan sesama, dan mengutamakan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

 

Pendalaman Teks

Pada masa pemerintahan Salomo, kerajaan Israel mengalami perkembangan pesat. Salomo membangun Bait Allah di Yerusalem dan berbagai bangunan penting lainnya. Namun, di balik kemajuan tersebut, rakyat juga mengalami beban kerja paska dan tanggungan yang berat akibat berbagai proyek pembangunan kerajaan. Namun, pada teks bacaan ini menceritakan kisah setelah Salomo meninggal kemudian digantikan oleh Rehabeam, anaknya, sebagai raja.

§  Ayat 1-5 -> Rehabeam pergi ke Sikhem, tempat seluruh Israel berkumpul untuk mengangkatnya menjadi raja. Dalam kesempatan itu, Yerobeam bersama rakyat menyampaikan permohonan agar Rehabeam meringankan beban kerja paksa dan tanggungan berat yang diberlakukan pada masa pemerintahan Salomo. Permintaan rakyat tersebut menunjukkan adanya persoalan yang perlu diperhatikan oleh pemimpin. Mereka tidak menolak kepemimpinan begitu saja, tetapi meminta perubahan agar kehidupan mereka menjadi lebih ringan. Rehabeam kemudian meminta waktu tiga hari sebelum memberikan jawaban. Pada bagian ini, kita melihat bahwa Rehabeam sebenarnya memperoleh kesempatan untuk membangun hubungan yang baik dengan rakyatnya. Ia dapat mendengarkan keluhan mereka dan mengambil keputusan yang mempertimbangkan kepentingan bersama. Mendengarkan bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian dan tanggung jawab.

§  Ayat 6-11 -> Rehabeam meminta nasihat dari dua kelompok yang berbeda. Kelompok pertama Adalah para tua-tua yang pernah melayani Salomo. Mereka menyarankan agar Rehabeam menjadi pelayan bagi rakyat, memenuhi permintaan mereka, dan memberikan jawaban yang baik. Menurut mereka, sikap melayani akan membuat rakyat tetap setia kepada raja. Namun, Rehabeam menolak nasihat tersebut. Ia kemudian meminta pendapat teman-teman sebayanya yang bertumbuh bersama dengannya dan sedang melayaninya. Mereka menyarankan agar Rehabeam menunjukkan kekuasaan dengan menjawab rakyat secara lebih keras daripada ayahnya. Rehabeam akhirnya memilih nasihat yang mendorongnya untuk menunjukkan kekuatan dan mempertahankan kekuasaan. Ia tidak mempertimbangkan dengan bijaksana keutuhan rakyat maupun akibat dari keputusan yang akan diambilnya. Bagian ini menunjukkan bahaya keangkuhan dalam kepemimpinan. Keangkuhan membuat seseorang lebih tertarik pada nasihat yang membenarkan keinginannya daripada nasihat yang mengarahkannya kepada kebenaran. Rehabeam memiliki kesempatan untuk bertindak bijaksana, tetapi justru memilih sikap yang memperbesar jarak antara dirinya dan rakyat. Keangkuhan dapat muncul ketika seseorang merasa pendapatnya paling benar, tidak mau menerima kritik, atau hanya mendengarkan orang-orang yang selalu menyetujuinya. Sikap demikian dapat merusak hubungan dan membuat persoalan semakin sulit diselesaikan.

§  Ayat 12-15-> Setelah tiga hari, Yerobeam dan seluruh rakyat datang kembali kepada Rehabeam untuk mendengar jawabannya. Rehabeam menjawab mereka dengan keras sesuai dengan nasihat teman-teman sebayanya. Ia menyatakan bahwa beban rakyat akan semakin berat, bukan diringankan. Keputusan ini menunjukkan bahwa Rehabeam lebih mengutamakan penegasan kekuasaan daripada mendengarkan kebutuhan rakyat. Ia gagal memahami bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang memberikan perintah, tetapi juga tentang membangun kepercayaan. Ayat 15 menjelaskan bahwa peristiwa ini berada dalam rangkaian penggenapan firman Tuhan yang disampaikan melalui Nabi Ahia kepada Yerobeam. Hal ini menunjukkan bahw perpecahan kerajaan juga berada dalam kerangka penghakinan Tuhan atas keadaan kerajaan Salomo, khususnya karena penympiangannya dari Tuhan sebagaimana diceritakan dalam 1 Raja-raja 11. Dengan demikian, teks ini tidak hanya berbicara tentang kesalahan pribadi Rehabeam, tetapi juga tentang perjalanan rohani dan politik bangsa Israel. Keputusan Rehabeam menjadi pemicu langsung yang mempercepat perpecahan, sementara latar belakangnya lebih luas daripada sekadar persoalan satu percakapan.

§  Ayat 16-19 -> Ketika rakyat melihat bahwa Rehabeam tidak mau mendengarkan mereka, sepuluh suku Israel menolak pemerintahannya. Mereka menyatakan tidak lagi memiliki bagian dalam pemerintahan keluarga Daud dan kemudian mengangkat Yerobeam menjadi raja atas Israel. Sementara itu, Rehabeam tetap memerintah ata sorang Israel yang tinggal di kota-kota Yehuda. Peristiwa ini menandai perpecahan besar dalam Sejarah bangsa Israel. Kerajaan yang sebelumnya Bersatu di bawah Daud dan Salomo, kini terbagi menjadi dua. Penolakan rakyat bukan hanya akibat dari satu jawaban yang keeras, melainkan juga berkaitan dengan ketegangan dan beban yang telah mereka alami sebelumnya. Sikap Rehabeam memperburuk keadaan karena ia tidak menggunakan kesempatan untuk membangun persatuan. Ia gagal memahami bahw kekuasaan tanpa kepedulian dapat kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang dipimpin.

§  Ayat 20-24 -> Setelah sepuluh suku Israel mengangkat Yerobeam sebagai raja, Rehabeam kembali ke Yerusalem dan mengumpulkan orang-orang Yehuda serta Benyamin untuk mempersiapkan perang melawan Israel. Ia berusaha memulihkan kekuasaannya melalui kekuatan militer. Namun, Tuhan menyampaikan firman melalui Nabi Semaya agar Rehabeam dan seluruh rakyat Yehuda serta Benyamin tidak berperang melawan saudara-saudara mereka sendiri. Tuhan menyatakan bahwa peristiwa tersebut berada dalam kehendak-Nya. Karena itu, mereka harus pulang ke rumah masing-masing. Rehabeam dan rakyatnya menaati dirman Tuhan dan membatalkan rencana perang tersebut. Bagian ini memperlihatkan bahwa meskipun perpecahan telah terjadi, masih ada kesempatan untuk mencegah konflik yang lebih besar. Ketaatan terhadap firman Tuhan menghalangi Rehabeam untuk memperburuk keadaan melalui peperangan.

 

Dari teks, ada beberapa hal menjadi bahan refleksi:

1.       Keangkuhan Membuat Pemimpin Menolak Nasihat dan Mengabaikan Penderitaan Rakyat (Ayat 1–15). Ketika Rehabeam menjadi raja, rakyat datang dengan sebuah permintaan: ringankanlah beban yang telah diberikan oleh Salomo, ayahnya. Mereka tidak meminta kerajaan dihancurkan, tetapi mengharapkan pemimpin yang mau mendengar dan memahami penderitaan mereka. Orang-orang tua menasihati Rehabeam agar melayani rakyat, memenuhi permintaan mereka, dan berbicara dengan baik. Namun, Rehabeam menolak nasihat tersebut. Ia lebih memilih nasihat teman-teman sebayanya yang menyuruhnya menunjukkan kekuasaan dengan ancaman yang lebih keras. Di sinilah keangkuhan mulai menghancurkan persatuan. Rehabeam menganggap bahwa kekuasaan harus dipertahankan melalui ketegasan yang keras, bukan melalui kebijaksanaan dan pelayanan. Ia ingin dihormati, tetapi tidak mau terlebih dahulu menghormati rakyatnya. Pemimpin yang baik bukanlah orang yang selalu ingin didengar, melainkan orang yang bersedia mendengar. Kerendahan hati membuka jalan bagi persatuan, sedangkan keangkuhan menumbuhkan luka dan perpecahan.

2.    Perkataan yang Keras dan Sikap Tidak Mau Mengalah Menghancurkan Persatuan (Ayat 16–24). Ketika rakyat mendengar jawaban Rehabeam, mereka menyatakan tidak lagi memiliki bagian dalam keluarga Daud. Sepuluh suku Israel kemudian memisahkan diri dan mengangkat Yerobeam sebagai raja. Kerajaan yang sebelumnya bersatu akhirnya terpecah menjadi dua. Perpecahan itu menunjukkan bahwa keputusan seorang pemimpin dapat membawa akibat besar bagi banyak orang. Rehabeam memiliki kesempatan untuk meredakan keadaan, tetapi ia memilih perkataan dan tindakan yang memperbesar konflik. Dalam kehidupan bergereja, perkataan yang kasar, keputusan sepihak, dan keinginan mempertahankan pendapat sendiri dapat memecah persekutuan. Masalah kecil bisa menjadi besar ketika tidak ada pihak yang mau mendengar, meminta maaf, atau membuka ruang dialog. Namun, ayat 24 juga menunjukkan bahwa Tuhan tidak menghendaki konflik diselesaikan dengan kekerasan. Ketika Rehabeam mengumpulkan pasukan untuk memerangi Israel, Tuhan menyampaikan melalui Semaya agar mereka tidak maju berperang melawan saudara-saudara mereka. Mereka pun menaati firman Tuhan dan pulang. Artinya, sekalipun perpecahan telah terjadi, manusia masih dapat menghentikan langkah yang memperburuk keadaan. Mendengar firman Tuhan, menahan amarah, dan menghindari kekerasan merupakan bagian penting dari usaha memelihara perdamaian. Jangan mempertahankan harga diri dengan mengorbankan persaudaraan. Lebih baik merendahkan hati untuk berdamai daripada meninggikan diri tetapi kehilangan orang-orang yang kita kasihi. Melalui bacaan ini, kita belajar bahwa keangkuhan dapat menghancurkan persatuan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Pertama, keangkuhan membuat seseorang menolak nasihat dan mengabaikan penderitaan orang lain. Kedua, perkataan yang keras dan sikap tidak mau mengalah dapat menghancurkan persatuan.


Pertanyaan :

1.      Apa akibatnya ketika seorang pemimpin lebih mendengarkan nasihat yang menyenangkan hatinya daripada jeritan kebutuhan rakyatnya?

2.   Apakah dalam keluarga dan pelayanan kita lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri daripada mendengarkan dan melayani orang lain?



Bacaan 2 : 1 Raja-raja 13:1-34

Tema : Ketaatan Setengah Jalan Berarti Tidak Taat

 

Pendahuluan

Kita sering mendengar ungkapan bahwa menaati perintah berarti melakukannya dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar melakukan Sebagian yang kita sukai. Namun, kenyataannya, terkadang kita memilih untuk taat hanya ketika perintah itu sesuai dengan keinginan kita, mudah dilakukan, atau tidak merugikan kepentingan pribadi. Ketika perintah tersebut terasa berat, kita mulai mencari alasan untuk menghindarinya, menunda pelaksanaannya, atau bahkan mengubahnya sesuai dengan pemikiran sendiri. Sikap seperti ini dapat terjadi dalam kehidupan kita. Kita merasa sudah melakukan yang benar karena telah melaksanakan sebagian tanggung jawab,  padahal ada bagian penting yang sengaja kita abaikan.

 

Pendalaman Teks

Teks ini berada dalam konteks pemerintahan Raja Yerobeam, raja pertama Kerajaan Israel Utara setelah kerajaan Israel terpecah pada masa Rehabeam. Perpecahan tersebut terjadi setelah Salomo meninggal dan Rehabeam menolak permintaan rakyat untuk meringankan beban mereka. Sepuluh suku Israel kemudian mengangkat Yerobeam sebagai raja, sedangkan suku Yehuda tetap berada di bawah pemerintahan Rehabeam. Setelah menjadi raja, Yerobeam menghadapi persoalan politik dan keagamaan. Ia khawatir bahwa apabila rakyat terus pergi ke Yerusalem untuk beribadah di Bait Allah, kesetiaan mereka akan kembali kepada keturunan Daud. Karena itu, Yerobeam membuat dua anak lembu emas dan menempatkannya di Betel dan Dan sebagai tempat ibadah bagi rakyatnya. Ia juga membangun tempat-tempat ibadah di bukit-bukit pengorbanan serta mengangkat imam-imam yang bukan berasal dari suku Lewi. Tindakan tersebut merupakan penyimpangan dari ketetapan Tuhan mengenai ibadah Israel.

·         Ayat 1-10 -> Bagian pertama menceritakan seorang abdi Allah dari Yehuda yang datang ke Betel ketika Yerobeam sedang berdiri di dekat mezbah untuk membakar korban. Abdi Allah itu menyampaikan nubuat bahwa seorang keturunan Daud Bernama Yosia kelak akan melakukan Tindakan terhadap mezbah tersebut. Nubuat ini merupakan pernyataan pengahakiman Tuhan terhadap praktik ibadah yang menyimpang. Ketika Yerobeam mendengar perkataan itu, ia mengulurkan tangannya dan memerintahkan agar abdi Allah tersebut ditangkap. Namun, tangan Yerobeam menjadi kaku sehingga ia tidak dapat menariknya kembali. Mezbah itu juga terbelah dan abu korban tercurah, sesuai dengan tanda yang disampaikan oleh abdi Allah. Setelah Yerobeam meminta pertolongan, abdi Allah itu berdoa kepada Tuhan sehingga tangan raja pulih kembali. Raja kemudian mengundangnya untuk makan dan menerima hadiah. Akan tetapi, abdi Allah itu menolak karena Tuhan telah memerintahkannya untuk tidak makan, minum, atau kembali melalui jalan yang sama. Bagian ini memperlihatkan bahwa abdi Allah tersebut memahami dan melaksanakan perintah Tuhan dengan baik. Ia tidak membiarkan tawaran raja mengubah tugas yang dipercayakan kepadanya. Ketaatan dimulai ketika seseorang bersedia mendengarkan dan menerima firman Tuhan sebagai pedoman hidup. Namun, mendengarkan saja tidak cukup; firman itu harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

·         Ayat 11-19 -> Dalam bagian ini, seorang nabi tua yang tinggal di Betel mendengar tentang tidakan abdi Allah dari Yehuda. Ia kemudian pergi mencari abdi Allah tersebut dan menemukannya sedang duduk di bawah sebuah pohon. Nabi tua itu mengundangnya untuk pulang bersamanya dan makan. Pada awalnya, abdi Allah tersebut menolak dengan tegas mengingat perintah Tuhan yang melarangnya makan dan minum di tempat itu. Namun, nabi tua tersebut kemudian mengatakan bahwa seorang malaikat telah berbicara kepadanya atas perintah Tuhan dan menyuruhnya membawa abdi Allah itu kembali untuk makan dan minum. Pernyataan tersebut membuat abdi Allah itu berubah pikiran. Ia akhirnya mengikuti nabi tua tersebut dan makan serta minum di rumahnya. Persoalan utama dalam bagian ini bukan sekadar abdi Allah menerima undangan makan, melainkan bahwa ia mengabaikan perintah Tuhan yang sebelumnya telah diterima dengan jelas. Ia membiarkan perkataan orang lain mengubah keputusan yang seharusnya tetap dipegang. Kisah ini memperlihatkan bahwa seseorang dapat memulai pelayanan dengn ketaatan, tetapi kemudian menyimpang ketika menghadapi bujukan yang tampak meyakinkan. Bahkan, perkataan yang menggunakan nama Tuhan tidak otomatis menjamin bahwa perkataan itu benar.

·         Ayat 20-26 -> Ketika abdi Allah dan nabi tua itu sedang makan, firman Tuhan datang kepada nabi tua tersebut. Ia kemudian menyampaikan teguran kepada abdi Allah karena telah melanggar perintah Tuhan dan tidak menaati apa yang diperintahkan kepadanya. Teguran tersebut menunjukkan keseriusan perintah Tuhan. Abdi Allah telah menerima tugas khusus dan mengetahui batas-batas yang ditetapkan Tuhan, tetapi ia memilih untuk mengikuti perkataan orang lain. Setelah selesai makan, abdi Allah itu berangkat pulang. Dalam perjalanan pulang, seekor singa menyerangnya dan ia mati. Namun, sing aitu tidak memakan tubuhnya dan tidak menyerang keledai yang ditungganginya. Peristiwa tersebut kemudian diketahui oleh nabi tua, yang menyimpulkan bahwa abdi Allah itu Adalah orang yang telah melanggar firman Tuhan. Kisah ini merupakan bagian yang sulit karena menggambarkan hukuman yang berat atas ketidaktaatan. Dalam konteks cerita, peristiwa tersebut menegaskan bahwa tugas seorang abdi Allah menuntut kesetiaan penuh terhadap firman yang dipercayakan kepadanya. Kita perlu membaca bagian ini sesuai dengan konteksnya, yaitu kisah khusus tentang seorang abdi Allah yang menerima perintah langusng dari Tuhan. Teks ini tidak berarti bahwa setiap kesalahan manusia akan langsung dibalas dengan hukuman fisik yang sama. Pesan utamnya adalah bahwa firman Tuhan tidak boleh diperlakukan sebagai sesuatu yagn dapat diabaikan sesuka hati.

·         Ayat 27-32 -> Setelah mendengar tentang kematian abdi Allah itu, nabi tua pergi mengambil tubuhnya. Ia mendapati bahwa tubuh abdi Allah masih terbaring di jalan, sedangkan singa dan keledai berada di dekatnya. Nabi tua kemudian membawa tubuh tersebut kembali ke kota dan meratapinya. Ia menguburkan abdi Allah itu di dalam kuburannya sendiri dan meminta agar ketika ia meninggal kelak, tulangnya diletakkan di samping tulang abdi Allah tersebut. Nabi tua juga menegaskan kembali bahw nubuat yang telah disampaikan mengenai mezbah di Betel pasti akan terjadi. Bagian ini memperlihatkan bahwa pesan Tuhan yang disampaikan melalui abdi Allah tidak boleh dianggap remeh. Walaupun pembawa pesan itu telah meninggal, firman Tuhan tetap memiliki makna dan otoritasnya. Di sisi lain, sikap nabi tua yang meratapi dan menguburkan abdi Allah tersebut menunjukkan adanya penghormatan terhadap orang yang telah menyampaikan firman Tuhan, meskipun kisahnya berakhir dengan tragis.

·         Ayat 33-34 ->Meskipun telah menyaksikan berbagai tanda dan teguran Tuhan,,Yerobeam tetap melakukan dosa dan tidak mau bertobat.bahkan terus mengangkat imam imam menurut kehendaknya sendiri.hal ini menunjukan bahwa ia lebih mengutamakan kepentingan  dan kekuasaannya daripada ketaatan kepada Tuhan.sikap keras kepala ini membuat dosa semakin berakar dan akhirnya membawa hukuman bagi keluarganya. Teks ini mengkritik sikap manusia yang sudah mengetahui kebenaran, tetapi tetap mempertahankan kesalahan demi kepentingan diri sendiri. Sebab, dosa yang terus dibiarkan bukan hanya merusak hubungan dengan Tuhan, tetapi juga dapat membawa dampak buruk bagi kehidupan orang lain.

 

Dari teks, ada beberapa hal menjadi bahan refleksi:

1.       Ketaatan Sejati Berarti Memegang Teguh Perintah Tuhan (Ayat 1–10). Seorang abdi Allah datang ke Betel untuk menyampaikan firman Tuhan kepada Raja Yerobeam. Ia menubuatkan penghukuman terhadap mezbah yang digunakan untuk penyembahan yang menyimpang. Ketika raja mencoba menangkapnya, tangannya menjadi kaku dan mezbah itu terbelah. Setelah abdi Allah berdoa, tangan raja pulih kembali. Tuhan kemudian memberikan perintah yang jelas kepada abdi Allah itu: jangan makan roti, jangan minum air, dan jangan kembali melalui jalan yang sama. Ia pun berangkat menjalankan tugasnya dan menolak undangan raja untuk makan bersama. Sikap ini menunjukkan bahwa ia memahami pentingnya menaati perintah Tuhan. Ia tidak boleh membiarkan jabatan, hadiah, atau kenyamanan mengalihkan perhatiannya dari tugas yang diberikan Tuhan. ketaatan sejati tidak boleh dikalahkan oleh kekuasaan, kenyamanan, keuntungan, atau kepentingan pribadi. Dalam kehidupan kita, termasuk dalam rumah tangga dan pelayanan, ketaatan bukan sekadar mengetahui firman Tuhan atau rajin beribadah, melainkan kesediaan melakukan kehendak Tuhan secara konsisten, sekalipun pilihan itu sulit dan tidak menguntungkan diri sendiri.

2.      Ketaatan Setengah Jalan Membawa Akibat yang Serius (Ayat 11–34). Dalam perjalanan pulang, abdi Allah itu bertemu dengan seorang nabi tua dari Betel. Nabi tua tersebut mengundangnya untuk makan, tetapi abdi Allah menolak karena mengingat perintah Tuhan. Kemudian, nabi tua itu berbohong dengan mengatakan bahwa seorang malaikat telah menyampaikan perintah baru agar abdi Allah tersebut dibawa kembali untuk makan dan minum. Abdi Allah itu akhirnya percaya kepada perkataan nabi tua tersebut dan melanggar perintah Tuhan. Akibatnya, firman Tuhan menyatakan hukuman atas ketidaktaatannya. Dalam perjalanan pulang, ia diserang dan dibunuh oleh seekor singa.

Peristiwa ini merupakan peringatan keras bahwa niat baik dan pelayanan yang berhasil tidak dapat menggantikan ketaatan kepada Tuhan. Abdi Allah itu telah menyampaikan firman dengan berani, tetapi ia gagal mempertahankan ketaatan sampai akhir. Dalam kehidupan sekarang, kita pun dapat mengalami godaan serupa. Kita mungkin memulai pelayanan dengan semangat, tetapi kemudian berkompromi karena bujukan orang lain. Kita mengetahui bahwa kejujuran itu penting, tetapi memilih berbohong demi keuntungan. Kita memahami bahwa pengampunan diperlukan, tetapi tetap memelihara kebencian. Firman Tuhan mengingatkan kita untuk menguji setiap nasihat berdasarkan kebenaran-Nya. Tidak semua perkataan orang yang dihormati otomatis sesuai dengan kehendak Tuhan. Ketaatan tidak cukup dimulai dengan baik; ketaatan harus dipertahankan sampai akhir.Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk memulai perjalanan iman dengan baik, tetapi juga untuk tetap setia sampai akhir.


Pertanyaan:

1.  Mengapa abdi Allah menerima hukuman ketika ia tidak menaati perintah Tuhan, meskipun ia telah melayani Tuhan?

2.  Apakah kita tetap berpegang pada firman Tuhan ketika perkataan orang lain bertentangan dengan kehendak-Nya?


Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin