PERSEKUTUAN PENDALAMAN ALKITAB
Jemaat GMIT Tamariska Maulafa
Kamis, 22 Oktober 2026
Bacaan 1 : 1 Raja-Raja 12:1-24
Tema : Keangkuhan Pangkal Perpecahan
Pendahuluan
Dalam kehidupan bersama, baik di dalam
keluarga, gereja, maupun Masyarakat, perpecahan sering kali berawal dari sikap
yang dianggap sederhana, seperti merasa diri paling benar, tidak mau
mendengarkan pendapat orang lain, dan memaksakan kehendak sendiri. Ketika
seseorang memiliki kedudukan atau kekuasaan, ia terkadang merasa bahwa dirinya
lebih tahu dan lebih berhak menentukan segala sesuatu. Akibatnya, nasihat orang
lain diabaikan, keluhan tidak didengarkan, dan hubungan yang sebelumnya baik
mulai mengalami keretakan. Keangkuhan membuat seseorang lebih mementingkan
kehendak pribadi daripada kepentingan bersama. Padahal, kehidupan yang harmonis
hanya dapat dibangun ketika setiap orang bersedia merendahkan hati,
mendengarkan sesama, dan mengutamakan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Pendalaman Teks
Pada masa pemerintahan Salomo,
kerajaan Israel mengalami perkembangan pesat. Salomo membangun Bait Allah di
Yerusalem dan berbagai bangunan penting lainnya. Namun, di balik kemajuan
tersebut, rakyat juga mengalami beban kerja paska dan tanggungan yang berat
akibat berbagai proyek pembangunan kerajaan. Namun, pada teks bacaan ini
menceritakan kisah setelah Salomo meninggal kemudian digantikan oleh Rehabeam,
anaknya, sebagai raja.
§ Ayat 1-5 -> Rehabeam pergi ke Sikhem, tempat
seluruh Israel berkumpul untuk mengangkatnya menjadi raja. Dalam kesempatan
itu, Yerobeam bersama rakyat menyampaikan permohonan agar Rehabeam meringankan
beban kerja paksa dan tanggungan berat yang diberlakukan pada masa pemerintahan
Salomo. Permintaan rakyat tersebut menunjukkan adanya persoalan yang perlu
diperhatikan oleh pemimpin. Mereka tidak menolak kepemimpinan begitu saja,
tetapi meminta perubahan agar kehidupan mereka menjadi lebih ringan. Rehabeam
kemudian meminta waktu tiga hari sebelum memberikan jawaban. Pada bagian ini,
kita melihat bahwa Rehabeam sebenarnya memperoleh kesempatan untuk membangun
hubungan yang baik dengan rakyatnya. Ia dapat mendengarkan keluhan mereka dan
mengambil keputusan yang mempertimbangkan kepentingan bersama. Mendengarkan
bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kepedulian dan tanggung jawab.
§ Ayat 6-11 -> Rehabeam meminta nasihat dari dua
kelompok yang berbeda. Kelompok pertama Adalah para tua-tua yang pernah
melayani Salomo. Mereka menyarankan agar Rehabeam menjadi pelayan bagi rakyat,
memenuhi permintaan mereka, dan memberikan jawaban yang baik. Menurut mereka,
sikap melayani akan membuat rakyat tetap setia kepada raja. Namun, Rehabeam
menolak nasihat tersebut. Ia kemudian meminta pendapat teman-teman sebayanya
yang bertumbuh bersama dengannya dan sedang melayaninya. Mereka menyarankan
agar Rehabeam menunjukkan kekuasaan dengan menjawab rakyat secara lebih keras
daripada ayahnya. Rehabeam akhirnya memilih nasihat yang mendorongnya untuk
menunjukkan kekuatan dan mempertahankan kekuasaan. Ia tidak mempertimbangkan
dengan bijaksana keutuhan rakyat maupun akibat dari keputusan yang akan
diambilnya. Bagian ini menunjukkan bahaya keangkuhan dalam kepemimpinan.
Keangkuhan membuat seseorang lebih tertarik pada nasihat yang membenarkan
keinginannya daripada nasihat yang mengarahkannya kepada kebenaran. Rehabeam
memiliki kesempatan untuk bertindak bijaksana, tetapi justru memilih sikap yang
memperbesar jarak antara dirinya dan rakyat. Keangkuhan dapat muncul ketika
seseorang merasa pendapatnya paling benar, tidak mau menerima kritik, atau
hanya mendengarkan orang-orang yang selalu menyetujuinya. Sikap demikian dapat
merusak hubungan dan membuat persoalan semakin sulit diselesaikan.
§ Ayat 12-15-> Setelah tiga hari, Yerobeam dan seluruh
rakyat datang kembali kepada Rehabeam untuk mendengar jawabannya. Rehabeam
menjawab mereka dengan keras sesuai dengan nasihat teman-teman sebayanya. Ia
menyatakan bahwa beban rakyat akan semakin berat, bukan diringankan. Keputusan
ini menunjukkan bahwa Rehabeam lebih mengutamakan penegasan kekuasaan daripada
mendengarkan kebutuhan rakyat. Ia gagal memahami bahwa kepemimpinan bukan hanya
tentang memberikan perintah, tetapi juga tentang membangun kepercayaan. Ayat 15
menjelaskan bahwa peristiwa ini berada dalam rangkaian penggenapan firman Tuhan
yang disampaikan melalui Nabi Ahia kepada Yerobeam. Hal ini menunjukkan bahw
perpecahan kerajaan juga berada dalam kerangka penghakinan Tuhan atas keadaan
kerajaan Salomo, khususnya karena penympiangannya dari Tuhan sebagaimana
diceritakan dalam 1 Raja-raja 11. Dengan demikian, teks ini tidak hanya
berbicara tentang kesalahan pribadi Rehabeam, tetapi juga tentang perjalanan
rohani dan politik bangsa Israel. Keputusan Rehabeam menjadi pemicu langsung
yang mempercepat perpecahan, sementara latar belakangnya lebih luas daripada
sekadar persoalan satu percakapan.
§ Ayat 16-19 -> Ketika rakyat melihat bahwa Rehabeam
tidak mau mendengarkan mereka, sepuluh suku Israel menolak pemerintahannya.
Mereka menyatakan tidak lagi memiliki bagian dalam pemerintahan keluarga Daud
dan kemudian mengangkat Yerobeam menjadi raja atas Israel. Sementara itu,
Rehabeam tetap memerintah ata sorang Israel yang tinggal di kota-kota Yehuda.
Peristiwa ini menandai perpecahan besar dalam Sejarah bangsa Israel. Kerajaan
yang sebelumnya Bersatu di bawah Daud dan Salomo, kini terbagi menjadi dua.
Penolakan rakyat bukan hanya akibat dari satu jawaban yang keeras, melainkan
juga berkaitan dengan ketegangan dan beban yang telah mereka alami sebelumnya.
Sikap Rehabeam memperburuk keadaan karena ia tidak menggunakan kesempatan untuk
membangun persatuan. Ia gagal memahami bahw kekuasaan tanpa kepedulian dapat
kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang dipimpin.
§ Ayat 20-24 -> Setelah sepuluh suku Israel mengangkat
Yerobeam sebagai raja, Rehabeam kembali ke Yerusalem dan mengumpulkan
orang-orang Yehuda serta Benyamin untuk mempersiapkan perang melawan Israel. Ia
berusaha memulihkan kekuasaannya melalui kekuatan militer. Namun, Tuhan
menyampaikan firman melalui Nabi Semaya agar Rehabeam dan seluruh rakyat Yehuda
serta Benyamin tidak berperang melawan saudara-saudara mereka sendiri. Tuhan
menyatakan bahwa peristiwa tersebut berada dalam kehendak-Nya. Karena itu,
mereka harus pulang ke rumah masing-masing. Rehabeam dan rakyatnya menaati
dirman Tuhan dan membatalkan rencana perang tersebut. Bagian ini memperlihatkan
bahwa meskipun perpecahan telah terjadi, masih ada kesempatan untuk mencegah
konflik yang lebih besar. Ketaatan terhadap firman Tuhan menghalangi Rehabeam
untuk memperburuk keadaan melalui peperangan.
Dari teks, ada beberapa hal menjadi
bahan refleksi:
1.
Keangkuhan Membuat Pemimpin
Menolak Nasihat dan Mengabaikan Penderitaan Rakyat (Ayat 1–15). Ketika Rehabeam
menjadi raja, rakyat datang dengan sebuah permintaan: ringankanlah beban yang
telah diberikan oleh Salomo, ayahnya. Mereka tidak meminta kerajaan
dihancurkan, tetapi mengharapkan pemimpin yang mau mendengar dan memahami
penderitaan mereka. Orang-orang tua menasihati Rehabeam agar melayani rakyat,
memenuhi permintaan mereka, dan berbicara dengan baik. Namun, Rehabeam menolak
nasihat tersebut. Ia lebih memilih nasihat teman-teman sebayanya yang
menyuruhnya menunjukkan kekuasaan dengan ancaman yang lebih keras. Di sinilah
keangkuhan mulai menghancurkan persatuan. Rehabeam menganggap bahwa kekuasaan
harus dipertahankan melalui ketegasan yang keras, bukan melalui kebijaksanaan
dan pelayanan. Ia ingin dihormati, tetapi tidak mau terlebih dahulu menghormati
rakyatnya. Pemimpin yang baik bukanlah orang yang selalu ingin didengar,
melainkan orang yang bersedia mendengar. Kerendahan hati membuka jalan bagi
persatuan, sedangkan keangkuhan menumbuhkan luka dan perpecahan.
2. Perkataan yang Keras dan Sikap Tidak Mau Mengalah Menghancurkan Persatuan (Ayat 16–24). Ketika rakyat mendengar jawaban Rehabeam, mereka menyatakan tidak lagi memiliki bagian dalam keluarga Daud. Sepuluh suku Israel kemudian memisahkan diri dan mengangkat Yerobeam sebagai raja. Kerajaan yang sebelumnya bersatu akhirnya terpecah menjadi dua. Perpecahan itu menunjukkan bahwa keputusan seorang pemimpin dapat membawa akibat besar bagi banyak orang. Rehabeam memiliki kesempatan untuk meredakan keadaan, tetapi ia memilih perkataan dan tindakan yang memperbesar konflik. Dalam kehidupan bergereja, perkataan yang kasar, keputusan sepihak, dan keinginan mempertahankan pendapat sendiri dapat memecah persekutuan. Masalah kecil bisa menjadi besar ketika tidak ada pihak yang mau mendengar, meminta maaf, atau membuka ruang dialog. Namun, ayat 24 juga menunjukkan bahwa Tuhan tidak menghendaki konflik diselesaikan dengan kekerasan. Ketika Rehabeam mengumpulkan pasukan untuk memerangi Israel, Tuhan menyampaikan melalui Semaya agar mereka tidak maju berperang melawan saudara-saudara mereka. Mereka pun menaati firman Tuhan dan pulang. Artinya, sekalipun perpecahan telah terjadi, manusia masih dapat menghentikan langkah yang memperburuk keadaan. Mendengar firman Tuhan, menahan amarah, dan menghindari kekerasan merupakan bagian penting dari usaha memelihara perdamaian. Jangan mempertahankan harga diri dengan mengorbankan persaudaraan. Lebih baik merendahkan hati untuk berdamai daripada meninggikan diri tetapi kehilangan orang-orang yang kita kasihi. Melalui bacaan ini, kita belajar bahwa keangkuhan dapat menghancurkan persatuan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Pertama, keangkuhan membuat seseorang menolak nasihat dan mengabaikan penderitaan orang lain. Kedua, perkataan yang keras dan sikap tidak mau mengalah dapat menghancurkan persatuan.
Pertanyaan :
1. Apa akibatnya ketika seorang pemimpin lebih mendengarkan nasihat yang menyenangkan hatinya daripada jeritan kebutuhan rakyatnya?
2. Apakah dalam keluarga dan pelayanan kita lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri daripada mendengarkan dan melayani orang lain?
Bacaan 2 : 1 Raja-raja 13:1-34
Tema : Ketaatan Setengah Jalan Berarti
Tidak Taat
Pendahuluan
Kita sering mendengar ungkapan bahwa
menaati perintah berarti melakukannya dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar
melakukan Sebagian yang kita sukai. Namun, kenyataannya, terkadang kita memilih
untuk taat hanya ketika perintah itu sesuai dengan keinginan kita, mudah
dilakukan, atau tidak merugikan kepentingan pribadi. Ketika perintah tersebut
terasa berat, kita mulai mencari alasan untuk menghindarinya, menunda
pelaksanaannya, atau bahkan mengubahnya sesuai dengan pemikiran sendiri. Sikap
seperti ini dapat terjadi dalam kehidupan kita. Kita merasa sudah melakukan
yang benar karena telah melaksanakan sebagian tanggung jawab, padahal ada bagian penting yang sengaja kita
abaikan.
Pendalaman Teks
Teks ini
berada dalam konteks pemerintahan Raja Yerobeam, raja pertama Kerajaan Israel
Utara setelah kerajaan Israel terpecah pada masa Rehabeam. Perpecahan tersebut
terjadi setelah Salomo meninggal dan Rehabeam menolak permintaan rakyat untuk
meringankan beban mereka. Sepuluh suku Israel kemudian mengangkat Yerobeam
sebagai raja, sedangkan suku Yehuda tetap berada di bawah pemerintahan
Rehabeam. Setelah menjadi raja, Yerobeam menghadapi persoalan politik dan
keagamaan. Ia khawatir bahwa apabila rakyat terus pergi ke Yerusalem untuk
beribadah di Bait Allah, kesetiaan mereka akan kembali kepada keturunan Daud.
Karena itu, Yerobeam membuat dua anak lembu emas dan menempatkannya di Betel dan
Dan sebagai tempat ibadah bagi rakyatnya. Ia juga membangun tempat-tempat
ibadah di bukit-bukit pengorbanan serta mengangkat imam-imam yang bukan berasal
dari suku Lewi. Tindakan tersebut merupakan penyimpangan dari ketetapan Tuhan
mengenai ibadah Israel.
·
Ayat
1-10 -> Bagian
pertama menceritakan seorang abdi Allah dari Yehuda yang datang ke Betel ketika
Yerobeam sedang berdiri di dekat mezbah untuk membakar korban. Abdi Allah itu
menyampaikan nubuat bahwa seorang keturunan Daud Bernama Yosia kelak akan
melakukan Tindakan terhadap mezbah tersebut. Nubuat ini merupakan pernyataan
pengahakiman Tuhan terhadap praktik ibadah yang menyimpang. Ketika Yerobeam
mendengar perkataan itu, ia mengulurkan tangannya dan memerintahkan agar abdi
Allah tersebut ditangkap. Namun, tangan Yerobeam menjadi kaku sehingga ia tidak
dapat menariknya kembali. Mezbah itu juga terbelah dan abu korban tercurah,
sesuai dengan tanda yang disampaikan oleh abdi Allah. Setelah Yerobeam meminta
pertolongan, abdi Allah itu berdoa kepada Tuhan sehingga tangan raja pulih
kembali. Raja kemudian mengundangnya untuk makan dan menerima hadiah. Akan
tetapi, abdi Allah itu menolak karena Tuhan telah memerintahkannya untuk tidak
makan, minum, atau kembali melalui jalan yang sama. Bagian ini memperlihatkan
bahwa abdi Allah tersebut memahami dan melaksanakan perintah Tuhan dengan baik.
Ia tidak membiarkan tawaran raja mengubah tugas yang dipercayakan kepadanya.
Ketaatan dimulai ketika seseorang bersedia mendengarkan dan menerima firman
Tuhan sebagai pedoman hidup. Namun, mendengarkan saja tidak cukup; firman itu
harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
·
Ayat
11-19 -> Dalam
bagian ini, seorang nabi tua yang tinggal di Betel mendengar tentang tidakan
abdi Allah dari Yehuda. Ia kemudian pergi mencari abdi Allah tersebut dan
menemukannya sedang duduk di bawah sebuah pohon. Nabi tua itu mengundangnya
untuk pulang bersamanya dan makan. Pada awalnya, abdi Allah tersebut menolak
dengan tegas mengingat perintah Tuhan yang melarangnya makan dan minum di
tempat itu. Namun, nabi tua tersebut kemudian mengatakan bahwa seorang malaikat
telah berbicara kepadanya atas perintah Tuhan dan menyuruhnya membawa abdi
Allah itu kembali untuk makan dan minum. Pernyataan tersebut membuat abdi Allah
itu berubah pikiran. Ia akhirnya mengikuti nabi tua tersebut dan makan serta
minum di rumahnya. Persoalan utama dalam bagian ini bukan sekadar abdi Allah
menerima undangan makan, melainkan bahwa ia mengabaikan perintah Tuhan yang
sebelumnya telah diterima dengan jelas. Ia membiarkan perkataan orang lain
mengubah keputusan yang seharusnya tetap dipegang. Kisah ini memperlihatkan
bahwa seseorang dapat memulai pelayanan dengn ketaatan, tetapi kemudian
menyimpang ketika menghadapi bujukan yang tampak meyakinkan. Bahkan, perkataan
yang menggunakan nama Tuhan tidak otomatis menjamin bahwa perkataan itu benar.
·
Ayat
20-26 -> Ketika abdi
Allah dan nabi tua itu sedang makan, firman Tuhan datang kepada nabi tua
tersebut. Ia kemudian menyampaikan teguran kepada abdi Allah karena telah
melanggar perintah Tuhan dan tidak menaati apa yang diperintahkan kepadanya.
Teguran tersebut menunjukkan keseriusan perintah Tuhan. Abdi Allah telah
menerima tugas khusus dan mengetahui batas-batas yang ditetapkan Tuhan, tetapi
ia memilih untuk mengikuti perkataan orang lain. Setelah selesai makan, abdi
Allah itu berangkat pulang. Dalam perjalanan pulang, seekor singa menyerangnya
dan ia mati. Namun, sing aitu tidak memakan tubuhnya dan tidak menyerang
keledai yang ditungganginya. Peristiwa tersebut kemudian diketahui oleh nabi
tua, yang menyimpulkan bahwa abdi Allah itu Adalah orang yang telah melanggar
firman Tuhan. Kisah ini merupakan bagian yang sulit karena menggambarkan
hukuman yang berat atas ketidaktaatan. Dalam konteks cerita, peristiwa tersebut
menegaskan bahwa tugas seorang abdi Allah menuntut kesetiaan penuh terhadap
firman yang dipercayakan kepadanya. Kita perlu membaca bagian ini sesuai dengan
konteksnya, yaitu kisah khusus tentang seorang abdi Allah yang menerima
perintah langusng dari Tuhan. Teks ini tidak berarti bahwa setiap kesalahan
manusia akan langsung dibalas dengan hukuman fisik yang sama. Pesan utamnya
adalah bahwa firman Tuhan tidak boleh diperlakukan sebagai sesuatu yagn dapat
diabaikan sesuka hati.
·
Ayat
27-32 -> Setelah
mendengar tentang kematian abdi Allah itu, nabi tua pergi mengambil tubuhnya.
Ia mendapati bahwa tubuh abdi Allah masih terbaring di jalan, sedangkan singa
dan keledai berada di dekatnya. Nabi tua kemudian membawa tubuh tersebut
kembali ke kota dan meratapinya. Ia menguburkan abdi Allah itu di dalam
kuburannya sendiri dan meminta agar ketika ia meninggal kelak, tulangnya
diletakkan di samping tulang abdi Allah tersebut. Nabi tua juga menegaskan
kembali bahw nubuat yang telah disampaikan mengenai mezbah di Betel pasti akan
terjadi. Bagian ini memperlihatkan bahwa pesan Tuhan yang disampaikan melalui
abdi Allah tidak boleh dianggap remeh. Walaupun pembawa pesan itu telah
meninggal, firman Tuhan tetap memiliki makna dan otoritasnya. Di sisi lain, sikap
nabi tua yang meratapi dan menguburkan abdi Allah tersebut menunjukkan adanya
penghormatan terhadap orang yang telah menyampaikan firman Tuhan, meskipun
kisahnya berakhir dengan tragis.
·
Ayat
33-34 ->Meskipun
telah menyaksikan berbagai tanda dan teguran Tuhan,,Yerobeam tetap melakukan
dosa dan tidak mau bertobat.bahkan terus mengangkat imam imam menurut
kehendaknya sendiri.hal ini menunjukan bahwa ia lebih mengutamakan kepentingan dan kekuasaannya daripada ketaatan kepada
Tuhan.sikap keras kepala ini membuat dosa semakin berakar dan akhirnya membawa
hukuman bagi keluarganya. Teks ini mengkritik sikap manusia yang sudah
mengetahui kebenaran, tetapi tetap mempertahankan kesalahan demi kepentingan
diri sendiri. Sebab, dosa yang terus dibiarkan bukan hanya merusak hubungan
dengan Tuhan, tetapi juga dapat membawa dampak buruk bagi kehidupan orang lain.
Dari teks, ada beberapa hal menjadi
bahan refleksi:
1.
Ketaatan Sejati
Berarti Memegang Teguh Perintah Tuhan (Ayat 1–10). Seorang abdi Allah datang ke
Betel untuk menyampaikan firman Tuhan kepada Raja Yerobeam. Ia menubuatkan
penghukuman terhadap mezbah yang digunakan untuk penyembahan yang menyimpang.
Ketika raja mencoba menangkapnya, tangannya menjadi kaku dan mezbah itu
terbelah. Setelah abdi Allah berdoa, tangan raja pulih kembali. Tuhan kemudian
memberikan perintah yang jelas kepada abdi Allah itu: jangan makan roti, jangan
minum air, dan jangan kembali melalui jalan yang sama. Ia pun berangkat
menjalankan tugasnya dan menolak undangan raja untuk makan bersama. Sikap ini
menunjukkan bahwa ia memahami pentingnya menaati perintah Tuhan. Ia tidak boleh
membiarkan jabatan, hadiah, atau kenyamanan mengalihkan perhatiannya dari tugas
yang diberikan Tuhan. ketaatan sejati tidak boleh dikalahkan oleh kekuasaan,
kenyamanan, keuntungan, atau kepentingan pribadi. Dalam kehidupan kita,
termasuk dalam rumah tangga dan pelayanan, ketaatan bukan sekadar mengetahui
firman Tuhan atau rajin beribadah, melainkan kesediaan melakukan kehendak Tuhan
secara konsisten, sekalipun pilihan itu sulit dan tidak menguntungkan diri
sendiri.
2.
Ketaatan Setengah Jalan Membawa Akibat yang Serius (Ayat
11–34). Dalam perjalanan pulang, abdi Allah itu bertemu dengan seorang nabi tua
dari Betel. Nabi tua tersebut mengundangnya untuk makan, tetapi abdi Allah
menolak karena mengingat perintah Tuhan. Kemudian, nabi tua itu berbohong
dengan mengatakan bahwa seorang malaikat telah menyampaikan perintah baru agar
abdi Allah tersebut dibawa kembali untuk makan dan minum. Abdi Allah itu
akhirnya percaya kepada perkataan nabi tua tersebut dan melanggar perintah
Tuhan. Akibatnya, firman Tuhan menyatakan hukuman atas ketidaktaatannya. Dalam
perjalanan pulang, ia diserang dan dibunuh oleh seekor singa.
Peristiwa ini merupakan peringatan keras bahwa niat baik dan pelayanan yang berhasil tidak dapat menggantikan ketaatan kepada Tuhan. Abdi Allah itu telah menyampaikan firman dengan berani, tetapi ia gagal mempertahankan ketaatan sampai akhir. Dalam kehidupan sekarang, kita pun dapat mengalami godaan serupa. Kita mungkin memulai pelayanan dengan semangat, tetapi kemudian berkompromi karena bujukan orang lain. Kita mengetahui bahwa kejujuran itu penting, tetapi memilih berbohong demi keuntungan. Kita memahami bahwa pengampunan diperlukan, tetapi tetap memelihara kebencian. Firman Tuhan mengingatkan kita untuk menguji setiap nasihat berdasarkan kebenaran-Nya. Tidak semua perkataan orang yang dihormati otomatis sesuai dengan kehendak Tuhan. Ketaatan tidak cukup dimulai dengan baik; ketaatan harus dipertahankan sampai akhir.Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk memulai perjalanan iman dengan baik, tetapi juga untuk tetap setia sampai akhir.
Pertanyaan:
1. Mengapa abdi Allah menerima hukuman ketika ia tidak
menaati perintah Tuhan, meskipun ia telah melayani Tuhan?
2. Apakah kita tetap
berpegang pada firman Tuhan ketika perkataan orang lain bertentangan dengan
kehendak-Nya?
Berikan Komentar